JATUH BANGUN NILAM SARI BESARKAN BISNIS KEBAB BABA RAFI SAMPAI BERUTANG 14M

Owner and Marketing Director PT Baba Rafi Indonesia, Nilam Sari harus melewati berbagai rintangan dalam membesarkan usahanya, Kebab Turki Baba Rafi. Menurutnya, dalam sebuah bisnis akan ada saat di mana seseorang berhadapan dengan tantangan.

Tantangan pertama yang harus dihadapinya adalah masa transisi dari menjual burger menjadi menjual kebab. Dia menilai, menjual burger lebih mudah karena sudah dikenal banyak masyarakat. Berbeda dengan kebab, dia harus berjuang untuk memperkenalkan kebab yang saat itu masih asing di telinga masyarakat.


"Kebab itu belum ada yang buat, masih unik. Dalam bisnis juga harus punya keunikan, tapi keunikan tadi seiring dengan waktu itu harus berubah. Karena sekarang juga sudah banyak kebab, jadi kita punya tantangan untuk Baba Rafi mengeluarkan terobosan baru," kata Nilam kepada merdeka.com.

Tak sampai di situ. Nilam pun masih harus menghadapi tantangan saat Baba Rafi sudah mulai berkembang ke berbagai wilayah, salah satunya Jakarta. Di kota ini lah Nilam mengalami berbagai tantangan berat, mulai dari culture shock hingga missed management.

"Jakarta itu kota yang memang besar, berbeda dengan Surabaya. Dan di Jakarta kita harus mengambil keputusan dengan cepat. Dan kita sempat culture shock. Selain itu, orang kalau komplain di Surabaya itu pakai basa basi, tapi di Jakarta itu langsung to the point. Jadi kita benar-benar culture shock,' jelasnya.

Dari sisi manajemen, Nilam sempat mengalami berbagai kendala. Saat membuka kantor di Jakarta, Nilam menyewa beberapa rumah di lokasi yang berbeda untuk dijadikan kantor. Sayangnya, hal ini membuat manajemen menjadi tidak ditangani dengan baik, bahkan memakan biaya yang cukup besar khususnya untuk transportasi.

"Ditambah 2008 ada krisis ekonomi kedua, lalu ada pemilihan presiden. Baba Rafi sistem pemasukannya itu ada dari royalti, bahan baku, dari penjualan di outlet dan dari investasi. Yang sangat terganggu itu investasi, yang merupakan pemasukan kita paling besar. Saat investasi terganggu, semuanya jadi terganggu juga. Karena pada saat itu, semua orang menahan investasi. Kita benar-benar kacau, dan kita sempat yang hampir bangkrut. Bahkan saya sempat punya utang di umur 27 punya utang Rp 14 miliar karena kacau," imbuh Nilam.

Menurutnya, tidak baik jika perusahaan berkembang terlalu cepat, perlu adanya tahapan, culture, dan tim yang kuat fondasi dari semuanya. Dalam membentuk tim yang kuat, Nilam pun masih dihadapkan dengan tantangan.


"saya juga dulu selalu mikir, seseorang yang tahu tentang perusahaan ini hanya saya, karena saya foundernya. Dan itu salah kaprah. Karena semakin besar perusahaannya, maka semua harus kerja tim untuk mengembangkan perusahaan. Ini bukan tentang siapa pendirinya, tapi tentang kita membentuk tim yang kuat. karena kita ga bisa apa-apa sendirian," tegasnya.

Hingga akhirnya, Nilam merekrut beberapa orang yang kompeten untuk membangun kembali Kebab Turki Baba Rafi secara perlahan. Mengidentifikasi permasalahan, membentuk culture, dan mempelajari situasi di lapangan. "Alhamdulillah 1,5 tahun kita bisa kembali ke rasio utang normal. Jadi masalah banyak tapi ini tentang bagaimana kita mencari solusi," tandasnya. [azz]

Komentar

  1. Hingga akhirnya, Nilam merekrut beberapa orang yang kompeten untuk membangun kembali Kebab Turki Baba Rafi secara perlahan. Mengidentifikasi permasalahan, membentuk culture, dan mempelajari situasi di lapangan. "Alhamdulillah 1,5 tahun kita bisa kembali ke rasio utang normal. Jadi masalah

    BalasHapus

Posting Komentar